DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian 4 Ustadz abdullah zaen

Spread the love



Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 185 DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-4 Pada pertemuan lalu, kita telah mulai mengkaji bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur. Berikut kelanjutannya: BACAAN KEEMPAT: Membaca Surat as-Sajdah sebanyak satu kali. Nomor urut surat ini dalam mushaf al-Qur’an adalah nomor 32. Terletak di juz 21. Jumlah ayatnya sebanyak 30 ayat. Dalil Landasan عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: ” كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَنَامُ حَتَّى يَقْرَأَ {الم تَنْزِيلُ} السَّجْدَةَ، وَ{تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ}”. Jâbir radhiyallahu ‘anhu menuturkan, “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak akan tidur hingga beliau membaca “Alif lâm mîm tanzîl as-sajdah” (Surat as-Sajdah) dan “Tabârakalladzî biyadihil mulk” (Surat al-Mulk)”. HR. Ahmad (No. 14714) dan dinilai sahih oleh al-Hâkim (No. 3598), adz-Dzahabiy serta al-Albâniy. Renungan Kandungan Kandungan global surat ini terbagi menjadi tiga poin: Pertama: Pendahuluan (Ayat 1-9) Surat ini diawali dengan mengenalkan kepada manusia tentang Allah ta’ala. Bahwa Dialah yang menciptakan langit dan bumi, mengetahui segala sesuatu yang ada di dalamnya, serta Dia pulalah yang mengatur alam semesta ini. Dia juga yang menurunkan al-Qur’an kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagai sarana untuk mengajak umat manusia agar beriman kepada Allah ta’ala. Ini semua menunjukkan kesempurnaan kekuasaan-Nya. Kedua: Penjelasan mengenai sikap orang-orang kafir dan kaum mukminin terhadap kekuasaan Allah (Ayat 10-25) Setelah mengenalkan Allah, tema pembahasan berpindah kepada keterangan mengenai sikap orang kafir terhadap kekuasaan Allah. Terutama kekuasaan-Nya untuk membangkitkan manusia kembali. Mereka mengingkari hal tersebut. Akibatnya mereka enggan untuk beriman kepada Allah dan untuk bersujud kepada-Nya. Agar terjadi perpaduan antara targhib (motivasi) dan tarhib (ancaman), maka pembahasan selanjutnya adalah tentang sikap kaum mukminin. Bertolak belakang dengan sikap orang-orang kafir, kaum mukminin sangat meyakini kekuasaan Allah ta’ala dan mempercayai ayat-ayat-Nya. Hal itu dibuktikan dengan kepatuhan mereka untuk bersujud kepada-Nya. Sebab mereka berharap meraih rahmat Allah dan terhindar dari siksa-Nya. Ketiga: Penutup (Ayat 26-30) Di penghujung surat mulia ini, diulang kembali penjelasan mengenai hal-hal yang menunjukkan kesempurnaan kekuasaan Allah. Di mana Dialah yang mengatur turunnya hujan dan tumbuhnya tanaman, sebagai rizki bagi manusia juga binatang. Terakhir digambarkan penyesalan orang-orang kafir kelak di akhirat, sebagai akibat keengganan mereka untuk beriman kepada Allah saat di dunia. Ini menunjukkan kekuasaan Allah untuk membangkitkan manusia di hari kiamat. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 25 Sya’ban 1443 / 28 Maret 2022 Diringkas dari Dalâlah Asmâ’ as-Suwar al-Qur’âniyyah ‘alâ Mahâwiriha, karya Dr. Umar Ali Arafat (hal. 334-335).


Spread the love

admin

Next Post

Shahih At-Targhib wa At-Tarhib: Ancaman Meminta-minta dalam Kondisi Mampu (Hadits 814-819)

Sat May 14 , 2022
Spread the love Rekaman tanggal 15 April 2022 Meminta-minta hukum asalnya terlarang. Banyak sekali dalil yang menunjukkan larangan hal ini, diantaranya: “Barangsiapa meminta-minta kepada orang lain dengan tujuan untuk memperbanyak kekayaannya, sesungguhnya ia telah meminta bara api; terserah kepadanya, apakah ia akan mengumpulkan sedikit atau memperbanyaknya” (HR. Muslim no. 1041) […]